Keeping The History Alive: Heritage Interpretation of Fort Oranje, Bill Carter dan Julia Macdonald-Buchanan Kunjungi Cabu Literasi Rempah.

Ternate – Upaya menjaga warisan budaya tidak cukup hanya dengan merawat bangunan tua dan menyimpan benda bersejarah di museum. Warisan itu harus tetap hidup melalui cerita, literasi, pengetahuan, keterlibatan masyarakat, hingga pemberdayaan generasi muda. Semangat inilah yang dibawa R.W. (Bill) Carter, akademisi dan peneliti bidang Heritage Resources Management atau manajemen sumber daya warisan budaya dari Sustainability Research Centre, University of the Sunshine Coast, Australia, bersama Julia Macdonald-Buchanan, pegiat konservasi yang berpengalaman memimpin berbagai penjelajahan dan kegiatan pelestarian lingkungan di sejumlah negara.

Keduanya menyempatkan diri mengunjungi Cabu Literasi Rempah di kawasan Benteng Oranje, Kota Ternate, Kamis (20/8/2026). Dalam kunjungan tersebut, Bill dan Julia didampingi Kris Syamsudin, Kepala Bidang Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Utara sekaligus inisiator Cengkeh Afo dan Gamalama Spices Community, serta Nurlaela Syarif, Anggota Komisi III DPRD Kota Ternate.

Kunjungan itu menjadi bagian dari rangkaian agenda menjelang Rakernas XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2026 yang menempatkan Kota Ternate sebagai tuan rumah. Dalam agenda tersebut, Bill juga dijadwalkan mengisi Masterclass Gastronomi di kawasan Cengkeh Afo, Kelurahan Tongole, pada 26 Agustus mendatang.

Kehadiran Bill dan Julia di ruang literasi masyarakat tersebut disambut hangat oleh para pengunjung dan pegiat literasi. Suasana diskusi sore itu berlangsung santai, namun sarat dengan pertukaran gagasan tentang sejarah, budaya, konservasi, hingga masa depan warisan lokal Ternate dan Maluku Utara.

Generasi muda yang hadir turut berdiskusi mengenai berbagai karya dan literatur lokal, mulai dari cerita Coka Iba, Sultan Baabullah hingga manuskrip sejarah Tidore. Pertemuan itu menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman internasional dan kekayaan pengetahuan lokal yang selama ini tumbuh di tengah masyarakat.

Bill Carter sendiri dikenal memiliki perhatian besar terhadap titik temu antara konservasi warisan budaya dan sejarah, pengelolaan lingkungan, serta keterlibatan aktif masyarakat lokal. Baginya, warisan budaya tidak boleh hanya menjadi benda pajangan atau catatan masa lalu, tetapi harus memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat masa kini.

Pendekatan yang dikembangkan Bill juga mendorong masyarakat untuk tidak sekadar menjaga bangunan bersejarah, tetapi memahami makna yang ada di baliknya. Kris Syamsudin mengatakan, Bill selama ini memiliki kepedulian besar terhadap peningkatan kapasitas masyarakat, terutama dalam cara memahami dan menjelaskan nilai sebuah warisan budaya.

“Bill adalah sosok yang peduli dan mendorong pemandu lokal agar tidak sekadar menjadi penyampai fakta sejarah atau guides, melainkan mampu menjelaskan makna dan kedalaman warisan budaya sebagai interpreters,” ujar Kris.

Dalam perjalanan dan kontribusinya di Maluku Utara, Bill juga memberi perhatian terhadap Benteng Oranje sebagai salah satu ruang penting untuk memahami bagaimana warisan sejarah dapat dikelola bersama masyarakat. Baginya, pelindungan fisik bangunan kolonial harus berjalan seiring dengan upaya menghidupkan warisan budaya takbenda atau intangible heritage, seperti cerita masyarakat, tradisi, pengetahuan lokal, kuliner dan identitas budaya yang tumbuh di sekitarnya.

Pemikiran tersebut juga dituangkan Bill melalui karya bertajuk Keeping The History Alive: Heritage Interpretation of Fort Oranje “Menjaga Sejarah Tetap Hidup: Interpretasi Warisan Budaya Benteng Oranje.” Karya tersebut menjadi salah satu rujukan penting dalam melihat pengelolaan situs bersejarah yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian fisik, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat.

Sebagai wilayah yang dikenal dunia sebagai bagian dari Kepulauan Rempah atau Spice Islands, Maluku Utara memiliki posisi penting dalam berbagai kajian tentang sejarah, perdagangan dan warisan budaya. Melalui pendekatan Heritage Resource Management, Bill menawarkan pandangan bahwa pelestarian dan pemanfaatan ekonomi tidak harus saling bertentangan.

Warisan budaya tetap harus dijaga, namun pada saat yang sama dapat dikembangkan secara berkelanjutan melalui pariwisata, pendidikan, literasi dan ekonomi kreatif yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Kolaborasi antara akademisi internasional, perguruan tinggi lokal seperti Universitas Khairun, pemerintah dan komunitas diharapkan terus membuka ruang bagi lahirnya generasi muda yang memiliki perhatian terhadap kebudayaan dan sejarah Maluku Utara.

Suasana diskusi di Cabu Literasi Rempah semakin hangat ketika Bill dan Julia berbagi cerita mengenai kehidupan mereka di Australia. Sambil menikmati kopi hitam tanpa gula dan cokelat panas, keduanya menceritakan kehidupan di perkebunan makadamia seluas 17 hektare di kawasan Sunshine Coast.

Julia yang memiliki pengalaman panjang dalam kegiatan konservasi di berbagai belahan dunia juga berbagi kisah mengenai keterlibatannya dalam inisiatif Land for Wildlife atau “Lahan untuk Kehidupan Liar.” Program tersebut mendorong upaya pemulihan ekosistem melalui penanaman pohon hutan hujan lokal, peningkatan keanekaragaman hayati serta pembangunan koridor habitat bagi satwa liar.

Pengalaman Julia di bidang konservasi, mulai dari Afrika, Argentina, Cile, Antarktika, Mongolia hingga Australia, menjadi inspirasi tersendiri bagi para pegiat literasi yang hadir. Pesan tentang pentingnya melambat, mengamati lingkungan sekitar dan membangun hubungan yang bermakna dengan alam terasa menyatu dengan semangat literasi yang dibangun di Cabu Literasi Rempah.

Julia juga tampak menikmati suasana kafe buku tersebut. Ia memuji kenikmatan kopi hitam dan suguhan cokelat panas yang disajikan sebagai bagian dari kehangatan pertemuan.

Menutup seluruh rangkaian diskusi, Bill Carter, Julia Macdonald-Buchanan dan Kris Syamsudin bersepakat untuk terus membangun kolaborasi dan sinergi dalam meningkatkan minat baca serta pemberdayaan para pegiat literasi di Kota Ternate.

Julia bahkan meninggalkan pesan hangat kepada para pengelola Cabu Literasi Rempah.

“I will be back soon for your hot chocolate at the Literasi Rempah book café.”

“Saya akan segera kembali untuk menikmati cokelat panas kalian di kafe buku Literasi Rempah.”

Kalimat sederhana itu menjadi penutup dari sebuah perjumpaan yang tidak hanya mempertemukan pegiat konservasi dari Australia dengan komunitas lokal di Ternate, tetapi juga mempertemukan pengalaman global dengan semangat menjaga sejarah, alam dan budaya dari ruang kecil bernama Cabu Literasi Rempah.

Bagi Ternate, kota yang memiliki jejak panjang sebagai salah satu pusat perdagangan rempah dunia, pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian warisan budaya dapat dimulai dari banyak cara. Dari buku dan cerita, dari ruang diskusi, dari keterlibatan generasi muda, hingga dari secangkir kopi dan cokelat panas yang mempertemukan orang-orang dengan semangat yang sama, yakni memastikan sejarah dan warisan budaya tidak hanya dikenang, tetapi terus hidup dan diwariskan. (Tim/FX)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *