Ternate – Budaya membaca dan berdiskusi terus mendapat ruang di tengah derasnya perkembangan teknologi dan arus informasi. Salah satunya melalui Caffe Buku Literasi Rempah di kawasan Benteng Oranje, Kota Ternate, yang kini menjadi tempat berkumpulnya berbagai kalangan untuk membaca, bertukar pikiran, hingga berdiskusi tentang beragam isu.
Semangat menjaga tradisi literasi itu mendapat apresiasi dari Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Fakultas Hukum Universitas Khairun (Unkhair), Dr. Nirwan M.T. Ali, S.H., M.M., CGCAE. Pada Minggu, 24 Agustus 2026, ia menyerahkan sebanyak 35 buku kepada Caffe Buku Literasi Rempah.
Penyerahan buku tersebut menjadi bentuk dukungan dan apresiasi terhadap generasi yang hingga kini masih mempertahankan kebiasaan membaca. Di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin dekat dengan media digital dan informasi serba cepat, keberadaan ruang-ruang literasi dinilai penting untuk terus membangun tradisi membaca dan berpikir kritis.
Caffe Buku Literasi Rempah bukan sekadar tempat menikmati suasana, tetapi telah berkembang menjadi ruang perjumpaan berbagai kalangan. Pengunjungnya datang dari latar belakang yang beragam, mulai dari pekerja seni, politisi, wartawan, pegawai negeri, akademisi, mahasiswa, komunitas literasi, hingga masyarakat umum.
Di tempat ini, pengunjung dapat melihat orang-orang yang membaca buku secara langsung, berdiskusi, dan bertukar gagasan. Keberadaan ruang tersebut juga menarik perhatian para tamu dari tingkat nasional. Bahkan, sejumlah peneliti internasional turut berkunjung untuk melihat langsung aktivitas dan geliat literasi yang tumbuh di kawasan bersejarah Benteng Oranje.
Kehadiran beragam kalangan tersebut menunjukkan bahwa buku dan literasi masih mampu menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai profesi, latar belakang, serta pandangan. Dari satu meja diskusi, gagasan dapat bertemu, pengalaman dapat dibagikan, dan wawasan dapat terus berkembang.
Penyerahan 35 buku oleh Ketua IKA Fakultas Hukum Unkhair itu pun diharapkan tidak hanya menambah koleksi bacaan, tetapi menjadi dorongan untuk menjaga kebiasaan membaca di tengah masyarakat, khususnya bagi generasi muda.
Sebab, membaca bukan hanya tentang menambah pengetahuan. Lebih dari itu, membaca membentuk cara berpikir, mempertajam daya kritis, memperluas wawasan, dan membuka ruang untuk memahami berbagai persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.
Di tengah perubahan zaman, kebiasaan membaca menjadi sebuah habit yang harus terus dipertahankan. Ruang seperti Caffe Buku Literasi Rempah membuktikan bahwa budaya membaca belum hilang. Ia masih hidup, tumbuh, dan terus menemukan tempatnya melalui perjumpaan orang-orang yang datang bukan hanya untuk membaca, tetapi juga untuk berdiskusi dan melahirkan gagasan.
Semoga semangat ini terus terjaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Sebab, generasi yang gemar membaca adalah generasi yang memiliki bekal untuk berpikir, memahami, dan mengambil peran dalam membangun masa depan. (Tim/FX)