JKPI XII Digelar di Ternate, Miliaran Rupiah Berpotensi Berputar di Ekonomi Lokal

Ternate – Pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) di Kota Ternate tidak hanya menjadi momentum promosi sejarah, budaya dan pariwisata, tetapi juga berpotensi menggerakkan perputaran ekonomi masyarakat.

Dengan jumlah peserta yang diperkirakan mendekati 1.000 orang dari berbagai daerah, rangkaian kegiatan JKPI selama beberapa hari berpotensi menciptakan perputaran ekonomi hingga miliaran rupiah di Kota Ternate.

Perputaran ekonomi tersebut tidak hanya berasal dari sektor perhotelan. Kehadiran delegasi dan tamu dari berbagai daerah turut meningkatkan aktivitas restoran, rumah makan, katering, transportasi, UMKM, ekonomi kreatif, jasa wisata hingga perdagangan lokal.

Sektor perhotelan menjadi salah satu yang merasakan dampak langsung. Meski tidak seluruh peserta membutuhkan kamar karena sebagian merupakan peserta dari Maluku Utara dan sebagian lainnya dapat berbagi kamar, kedatangan delegasi dari luar daerah tetap meningkatkan permintaan terhadap akomodasi selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Aktivitas ekonomi juga bergerak di sektor kuliner. Mobilitas peserta dalam mengikuti Rakernas, seminar, festival, city tour hingga berbagai agenda budaya membuka peluang peningkatan transaksi bagi restoran, rumah makan dan pelaku usaha kuliner lokal.

Begitu pula sektor transportasi. Pergerakan delegasi dari tempat menginap menuju lokasi kegiatan, kawasan heritage dan destinasi wisata memberikan tambahan aktivitas bagi rental kendaraan, sopir dan jasa transportasi lokal.

Sementara bagi UMKM, kehadiran peserta dari berbagai daerah menjadi pasar potensial untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk khas Ternate. Mulai dari makanan, rempah, kerajinan, cendera mata hingga berbagai produk ekonomi kreatif berpeluang mendapatkan konsumen baru.

Namun, dampak ekonomi JKPI tidak berhenti pada transaksi pertama. Hal yang lebih penting adalah bagaimana tercipta economic circulation di dalam ekonomi lokal.

Uang yang dibelanjakan peserta di hotel, misalnya, kemudian mengalir kepada pekerja, pemasok bahan pangan, jasa laundry, transportasi dan berbagai penyedia kebutuhan hotel. Pendapatan restoran kembali berputar kepada pedagang bahan baku, nelayan, petani, pekerja dan pemasok.

Begitu pula dengan UMKM. Ketika produk lokal terjual, pendapatan tersebut kembali digunakan untuk membeli bahan baku, membayar tenaga kerja dan memenuhi kebutuhan usaha.

Dengan demikian, pola sederhananya adalah peserta JKPI → hotel, restoran, transportasi dan UMKM → pekerja serta pemasok lokal → pedagang dan produsen → rumah tangga → kembali ke aktivitas ekonomi lokal.

Inilah yang membuat sebuah event berskala nasional berpotensi memiliki efek ekonomi yang lebih luas dibandingkan nilai transaksi yang terlihat secara langsung.

Namun, seberapa besar manfaat yang benar-benar tinggal di Ternate sangat bergantung pada keterlibatan pelaku usaha lokal.

Jika kebutuhan kegiatan lebih banyak menggunakan hotel, restoran, transportasi, UMKM, pekerja dan pemasok lokal, maka miliaran rupiah yang berputar tersebut akan memiliki multiplier effect yang lebih besar bagi masyarakat.

Sebaliknya, jika sebagian besar kebutuhan dipenuhi penyedia dari luar daerah, maka sebagian uang yang masuk berpotensi kembali keluar dari Ternate.

Karena itu, ukuran keberhasilan ekonomi JKPI tidak cukup hanya dilihat dari jumlah peserta dan kemeriahan kegiatan. Pemerintah Kota Ternate juga dapat mengukur dampaknya melalui tingkat hunian hotel, omzet restoran, transaksi UMKM, penggunaan jasa transportasi, transaksi digital serta peningkatan kunjungan destinasi wisata.

Pada akhirnya, JKPI XII bukan sekadar tentang Rakernas dan festival budaya. Event ini juga menjadi kesempatan bagi Ternate untuk menunjukkan bahwa warisan sejarah dan budaya dapat dikonversi menjadi aktivitas ekonomi yang menguntungkan masyarakat. (Tim/FX)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *