Luruskan Narasi Liar di Medsos, Hasil Pemeriksaan Awal Tegaskan Sutrimo Meninggal Karena Sakit

Jakarta – Beragam narasi yang berkembang di media sosial terkait meninggalnya Sutrimo mulai diluruskan. Pihak pengelola rumah tempat Sutrimo tinggal menegaskan bahwa peristiwa tersebut bermula dari kondisi kesehatan korban yang tiba-tiba memburuk, sebelum akhirnya mendapat pertolongan dan dievakuasi ke rumah sakit.

Sebelumnya, kabar mengenai kematian Sutrimo sempat diwarnai berbagai spekulasi, termasuk dugaan adanya tindak kekerasan maupun narasi bernuansa mistis. Namun, berdasarkan keterangan pihak yang mengetahui langsung rangkaian kejadian, Sutrimo mengalami kondisi fisik yang menurun sebelum akhirnya meninggal dunia.

Hasil pemeriksaan awal kepolisian yang disampaikan pihak terkait juga disebut tidak menemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh Sutrimo. Temuan tersebut memperkuat keterangan bahwa tidak terdapat indikasi kekerasan dalam peristiwa tersebut.

Kronologi kejadian bermula pada dini hari. Sekitar pukul 01.00 WIB, Sutrimo masih sempat beraktivitas dan keluar menggunakan sepeda motor untuk membeli makanan. Ia kemudian kembali ke tempat tinggalnya di sebuah bangunan bekas klinik kecantikan di kawasan Kramat Pela.

Sebelum beristirahat, Sutrimo disebut sempat mengonsumsi beberapa gelas kopi serta suplemen vitamin C dosis tinggi. Sekitar pukul 02.00 WIB, kondisi tubuhnya mulai terasa lemas hingga kemudian memutuskan untuk tidur.

Sekitar pukul 05.30 WIB, Sutrimo menghubungi Arif melalui telepon. Dalam percakapan tersebut, ia mengeluhkan kondisi tubuhnya yang sangat lemas dan meminta pertolongan.

Mendapatkan telepon tersebut, Arif segera menuju lokasi. Namun, pagar bangunan dalam keadaan terkunci dari dalam. Karena melihat kondisi Sutrimo yang membutuhkan pertolongan, Arif kemudian memanjat pagar untuk masuk ke dalam.

Sutrimo ditemukan dalam kondisi kritis di balik pintu kaca. Arif bersama pihak lainnya kemudian segera menghubungi ambulans dan mengevakuasi Sutrimo ke Rumah Sakit Muhammadiyah untuk mendapatkan penanganan medis.

Pihak pengelola menegaskan bahwa proses evakuasi tersebut murni merupakan upaya pertolongan dan bentuk empati terhadap Sutrimo yang saat itu berada dalam kondisi kritis.

“Tindakan teman-teman di lapangan murni karena empati dan kepedulian antar-sesama pekerja. Tidak ada niat jahat, apalagi unsur pidana. Mereka hanya ingin menyelamatkan almarhum,” ujar pihak pengelola melalui perawat rumah.

Diketahui, Sutrimo sebelumnya sudah tidak lagi berstatus sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) aktif di kediaman FA sejak 2024. Ia kemudian tinggal seorang diri di bangunan yang dijaganya dan menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Pihak keluarga maupun pengelola menyerahkan sepenuhnya proses pemeriksaan kepada aparat yang berwenang. Mereka berharap hasil pemeriksaan dapat menjadi dasar yang objektif dalam menjelaskan penyebab meninggalnya Sutrimo sekaligus menghentikan berbagai narasi yang belum terverifikasi di media sosial. (Tim/FX)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *