Keanekaragaman Hayati Malut Tak Bisa Dipisahkan dari Pembangunan dan Ketahanan Pangan

Ternate – Upaya menjaga keanekaragaman hayati di Maluku Utara dinilai perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari pembangunan daerah, bukan hanya sebagai agenda konservasi lingkungan.

Pandangan tersebut mengemuka dalam lokakarya yang digelar Perhimpunan Burung Indonesia bertajuk “Peran Parapihak di Maluku Utara dalam Mengomunikasikan dan Melaksanakan Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia (IBSAP)” di Emerald Hotel, Kota Ternate, Rabu (26/8).

Kegiatan tersebut mempertemukan berbagai pihak untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya keanekaragaman hayati sekaligus mendorong kolaborasi dalam penerapannya di tengah aktivitas pembangunan dan kehidupan masyarakat.

Head of Conservation Burung Indonesia, Adi Widyanto, mengatakan keanekaragaman hayati sebenarnya memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Menurutnya, lingkungan yang sehat merupakan bagian dari ekosistem keanekaragaman hayati yang memberikan manfaat bagi manusia.

Ia menilai pemahaman mengenai konservasi tidak seharusnya hanya diarahkan pada spesies atau kawasan tertentu, tetapi juga pada bagaimana masyarakat dapat mempertahankan sumber-sumber kehidupan yang bergantung pada lingkungan.

“Menjaga keanekaragaman hayati berarti juga melestarikan sumber-sumber kehidupan itu sendiri,” ujar Adi.

Menurut dia, hubungan tersebut terlihat dari berbagai sektor, mulai dari pertanian, perikanan hingga pembangunan. Pemanfaatan sumber daya alam yang tidak memperhatikan keberlanjutan berpotensi memberikan dampak terhadap lingkungan sekaligus mengancam sumber pangan dan kehidupan masyarakat dalam jangka panjang.

Karena itu, tantangan yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana menyeimbangkan kebutuhan pembangunan dan konsumsi dengan prinsip keberlanjutan.

Adi mengingatkan bahwa pola pembangunan yang menghasilkan tekanan terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati perlu dievaluasi. Hal tersebut penting agar pembangunan tidak hanya memberikan manfaat dalam jangka pendek, tetapi juga mampu menjaga kualitas lingkungan untuk generasi berikutnya.

Menurutnya, target pembangunan menuju Indonesia Emas 2045 harus berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan lingkungan dan keanekaragaman hayati.

“Kalau kita masih membangun dengan cara seperti sekarang yang banyak menghasilkan dampak negatif untuk lingkungan dan keanekaragaman hayati, bagaimana kira-kira kondisi kita 10 tahun ke depan?” katanya.

Dalam konteks Maluku Utara, keterlibatan berbagai pihak dinilai menjadi bagian penting untuk memastikan strategi dan rencana aksi keanekaragaman hayati tidak berhenti pada dokumen maupun kebijakan.

Perhimpunan Burung Indonesia melalui lokakarya tersebut mendorong agar IBSAP dapat dikomunikasikan dan diterapkan secara lebih luas dalam berbagai sektor pembangunan, sehingga kepentingan ekonomi, kebutuhan masyarakat dan perlindungan lingkungan dapat berjalan secara berimbang.

Kolaborasi antarpihak diharapkan menjadi salah satu kunci agar kekayaan keanekaragaman hayati Maluku Utara tetap terjaga sekaligus memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. (Tim/FX)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *