Bencana di Pulau Makian: Ratusan Rumah Terdampak, Respons Pemda Dipertanyakan

Halmahera Selatan – Lima hari setelah bencana angin puting beliung menerjang Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, kondisi warga terdampak di Desa Rabudayo masih memprihatinkan. Hingga Sabtu (19/4/2026), puluhan kepala keluarga belum mendapatkan kepastian hunian dan masih bertahan di bawah tenda darurat maupun di rumah kerabat.

Peristiwa yang terjadi pada Selasa (14/4/2026) sekitar pukul 03.00 WIT itu menghancurkan puluhan rumah dalam waktu singkat. Warga menggambarkan kejadian tersebut berlangsung sangat cepat dan mencekam.

“Suaranya besar. Baru sebentar terdengar bunyi retakan, tiba-tiba atap rumah sudah melayang,” ujar salah satu warga yang selamat, mengenang detik-detik saat angin kencang menghantam permukiman mereka.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat bencana ini berdampak pada ratusan rumah di tiga desa di Kecamatan Pulau Makian, dengan Desa Rabudayo menjadi wilayah paling parah. Selain rumah yang rata dengan tanah, tercatat pula puluhan rumah mengalami rusak sedang dan ringan.

Akibatnya, banyak warga kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi secara mandiri. Sebagian tinggal di rumah keluarga, sementara lainnya bertahan dengan tenda dan terpal seadanya di sekitar lokasi terdampak.

Sejauh ini, bantuan yang diterima warga baru berasal dari Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD yang mendistribusikan logistik dasar seperti sembako dan tenda darurat. Meski membantu kebutuhan awal, warga menilai bantuan tersebut belum menjawab kebutuhan utama mereka, yakni kepastian pembangunan kembali rumah.

“Kami bersyukur BPBD sudah datang membantu. Tapi sampai hari ini kami belum melihat langkah nyata dari pemerintah daerah untuk membangun kembali rumah kami,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan warga terkait kecepatan dan keseriusan Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dalam menangani dampak bencana. Warga berharap adanya langkah konkret, baik melalui anggaran tanggap darurat, APBD Perubahan, maupun koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan pemerintah pusat.

Di sisi lain, BPBD Maluku Utara mengingatkan bahwa potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi, meskipun kondisi saat ini mulai berangsur membaik. Warga diminta tetap waspada terhadap kemungkinan angin kencang susulan yang dapat memperparah kerusakan, terutama pada bangunan yang sudah dalam kondisi rapuh.

Di tengah keterbatasan yang dihadapi, warga Rabudayo kini berharap kehadiran negara tidak berhenti pada tahap tanggap darurat. Mereka menginginkan adanya kepastian untuk bangkit, membangun kembali rumah, dan melanjutkan kehidupan yang sempat porak-poranda akibat bencana. (Tim/FX)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *