Maluku Utara – Mentari Timur Academy terus mematangkan program pembinaan sepak bola usia muda dengan konsep pengembangan pemain yang terstruktur dan berkelanjutan. Program yang dijadwalkan mulai berjalan pada 1 Oktober 2026 ini tidak hanya berorientasi pada prestasi di lapangan, tetapi juga menyiapkan pemain dari sisi pendidikan, karakter, mental, hingga membuka jalur menuju sepak bola profesional.
Direktur Teknik Mentari Timur Academy, Coach Uphy Hi. Azis, mengatakan program tersebut dirancang untuk membuka ruang bagi pemain-pemain muda potensial, khususnya dari kawasan Indonesia Timur, agar dapat berkembang hingga level profesional.
“Tujuan utama Mentari Timur Academy adalah menjadikan pemain sebagai pemain profesional sekaligus membantu menyalurkan pemain ke jenjang EPA maupun kompetisi liga,” ujar Uphy.
Ia menjelaskan, pola latihan di Mentari Timur Academy akan dilakukan secara terprogram dengan intensitas latihan hingga enam kali dalam sepekan. Materi kepelatihan mencakup empat aspek utama, yakni technical, tactical, physical dan mentality.
Menurutnya, pembinaan pemain tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan mengolah bola. Pemain juga harus memiliki pemahaman taktik, kondisi fisik yang baik serta mental yang kuat untuk menghadapi persaingan di level yang lebih tinggi.
Selain pembinaan sepak bola, Mentari Timur Academy juga memasukkan aspek pendidikan sebagai bagian penting dari program. Para pemain akan diarahkan untuk tetap mendapatkan pendidikan formal, pendidikan agama, pendidikan karakter serta pendidikan bahasa Inggris.
“Anak-anak bukan hanya dipersiapkan menjadi pemain sepak bola. Pendidikan dan karakter juga menjadi bagian penting karena mereka adalah generasi masa depan,” jelasnya.
Siapkan Jalur Kompetisi dan Penyaluran Pemain
Dalam pengembangan pemain, Mentari Timur Academy juga menyiapkan jalur kompetisi sebagai bagian dari proses pembentukan mental dan pengalaman bertanding.
Sejumlah agenda yang menjadi target pembinaan antara lain Piala Soeratin, Piala Gubernur, Liga Pelajar dan berbagai festival sepak bola, termasuk membuka peluang penyaluran pemain menuju kompetisi EPA.
Mentari Timur Academy juga tengah membangun kerja sama dengan sejumlah tim di Pulau Jawa dan Bali. Jaringan tersebut diharapkan dapat membuka akses lebih luas bagi pemain-pemain potensial untuk mendapatkan pengalaman serta kesempatan berkembang di luar Maluku Utara.
Konsep pembinaan disusun melalui Pathway Development berdasarkan kelompok usia. Pemain usia 9–11 tahun akan mendapatkan pembinaan basic/SSB, kemudian memasuki jenjang Academy pada usia 13 tahun, 15 tahun dan 17 tahun.
Diperkuat Pelatih Berlisensi
Untuk menjalankan program tersebut, Mentari Timur Academy diperkuat sejumlah pelatih yang memiliki lisensi kepelatihan.
Tim pelatih saat ini terdiri dari Coach Uphy Hi. Azis (Lisensi B), Adam Tomagola (Lisensi C), Hasan (Lisensi C), Gamran Tuduho (Lisensi C), Rusdin Mahyudin (Lisensi C), Samsul Sadikin (Lisensi C), Masmu (Lisensi D) dan Zainudin.
Selain itu, Mentari Timur Academy menambah dua staf pelatih, yakni Sunaryo Ali (Lisensi C) sebagai Goalkeeper Coach serta Ali Imron/Takesi (Lisensi C).
Coach Ali Imron/Takesi memberikan apresiasi terhadap konsep pembinaan yang disiapkan Mentari Timur Academy.
Menurutnya, potensi pemain dari kawasan Indonesia Timur sangat besar dan membutuhkan wadah pembinaan yang terstruktur serta konsisten.
“Mentari Timur Academy tidak hanya fokus pada hasil pertandingan, tetapi juga pembangunan karakter dan program latihan jangka panjang. Ini yang dibutuhkan SSB zaman sekarang,” ujarnya.
Ia berharap Mentari Timur Academy dapat menjadi salah satu wadah pembinaan sepak bola usia muda di kawasan Indonesia Timur sekaligus membuka jalan bagi pemain-pemain muda untuk berprestasi di level yang lebih tinggi.
“Saya mengikuti perkembangan Mentari Timur Academy beberapa bulan terakhir. Secara program latihan dan manajemen pembinaan, mereka termasuk yang progresif di kawasan Timur. Potensi pemainnya luar biasa, tinggal dipoles dengan program yang konsisten,” kata Ali Imron.
Rajak Idrus: Kami Ingin Bangun Sistem Pembinaan Berkelanjutan
Sementara itu, Ketua Mentari Timur Academy, Rajak Idrus, didampingi Sekretaris Endy dan Rafik Tuanaya, menegaskan bahwa pembentukan academy merupakan bagian dari komitmen untuk membangun sistem pembinaan sepak bola yang berkelanjutan.
Rajak mengatakan, Mentari Timur Academy ingin memberikan ruang kepada anak-anak muda untuk berkembang melalui proses yang jelas, mulai dari usia dini hingga menuju jenjang kompetisi yang lebih tinggi.
“Kami ingin membangun sebuah sistem pembinaan. Anak-anak tidak hanya datang latihan kemudian bertanding, tetapi mereka harus memiliki jalur perkembangan yang jelas, baik dari sisi sepak bola maupun pendidikan,” ujar Rajak.
Ia menambahkan, keberadaan Mentari Timur Academy diharapkan dapat menjadi jembatan bagi talenta-talenta muda Maluku Utara untuk mendapatkan kesempatan lebih luas.
“Kami ingin anak-anak ini punya mimpi yang besar. Kalau mereka punya kemampuan, kita harus siapkan jalannya. Karena itu, program ini kami bangun dengan melibatkan tenaga pelatih yang memiliki kompetensi dan jaringan sepak bola di luar daerah,” katanya.
Rajak juga mengajak para orang tua untuk bersama-sama mendukung proses pembinaan. Menurutnya, keberhasilan seorang pemain muda tidak hanya ditentukan oleh pelatih, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga dan lingkungan.
Didampingi Sekretaris Endy dan Rafik Tuanaya, Rajak berharap Mentari Timur Academy dapat menjadi wadah pembinaan yang mampu melahirkan pemain-pemain berkualitas dari Maluku Utara dan Indonesia Timur.
“Target kami bukan hanya memenangkan pertandingan. Yang lebih penting adalah bagaimana anak-anak ini berkembang, memiliki karakter, disiplin, pendidikan yang baik, dan pada akhirnya mampu bersaing di level profesional,” pungkasnya.
Mentari Timur Academy dijadwalkan mulai menjalankan program pembinaan pada 1 Oktober 2026. Bagi orang tua yang belum sempat mengikuti pertemuan sebelumnya, pihak academy membuka ruang komunikasi untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai program, sistem latihan, kelompok usia dan mekanisme pembinaan. (Tim/FX)