Mitos Busa di Mulut dan Dugaan Keracunan: Penjelasan Ilmiah di Balik Meninggalnya Sutrimo

Jakarta – Busa di mulut sering kali langsung dikaitkan dengan keracunan. Anggapan tersebut kembali muncul setelah meninggalnya Sutrimo dan beredarnya berbagai narasi di masyarakat mengenai dugaan penyebab kematiannya.

Namun, dari perspektif medis, anggapan bahwa busa di mulut merupakan tanda pasti keracunan tidak tepat.

Busa dapat muncul ketika air liur dan lendir saluran pernapasan bercampur dengan udara akibat perubahan pola pernapasan. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika seseorang mengalami kejang, koma, gangguan pernapasan maupun kondisi medis berat lainnya.

Dalam kasus Sutrimo, kronologi sebelum kematiannya menjadi bagian penting untuk diperhatikan. Almarhum disebut masih beraktivitas secara normal sekitar pukul 01.00 WIB. Beberapa jam kemudian kondisi tubuhnya mulai menurun. Sekitar pukul 05.30 WIB, ia masih mampu berkomunikasi dan meminta pertolongan karena mengalami lemas dan menggigil.

Kondisinya kemudian memburuk hingga mengalami kejang dan akhirnya meninggal dalam proses evakuasi.

Rangkaian tersebut memiliki sejumlah karakteristik yang dapat ditemukan pada hipoglikemia berat, terutama pada seseorang yang memiliki riwayat diabetes. Penurunan kadar gula darah secara ekstrem dapat menyebabkan tubuh mengalami gemetar dan kelemahan, kemudian berkembang menjadi gangguan fungsi otak, kehilangan kesadaran, kejang hingga koma.

Dalam kondisi demikian, munculnya busa di sekitar mulut bukanlah sesuatu yang secara otomatis menunjukkan adanya racun.

Begitu pula jika ditemukan suatu zat di dalam tubuh, temuan tersebut tidak serta-merta berarti zat itulah yang menyebabkan kematian. Pemeriksaan toksikologi harus melihat kadar zat, proses penyerapan, distribusi dan efek toksiknya terhadap tubuh.

Karena itu, narasi mengenai dugaan keracunan perlu dibedakan antara dugaan, temuan dan kesimpulan ilmiah. Ketiganya tidak dapat disamakan.

Kematian Sutrimo memang telah memunculkan pertanyaan di masyarakat. Namun, menjadikan satu tanda fisik sebagai dasar untuk menyimpulkan keracunan justru berpotensi menyesatkan.

Dengan mempertimbangkan riwayat diabetes, gejala sebelum kematian dan kronologi kejadian, komplikasi akibat gangguan gula darah merupakan salah satu kemungkinan medis yang patut dikaji secara serius.

Meski demikian, penetapan penyebab kematian tetap harus berdasarkan pemeriksaan resmi dan bukti ilmiah yang lengkap. (Tim/FX)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *