Maluku Utara – Pembangunan Sabo Dam Sasa di Kota Ternate terus berjalan dan mendapat sambutan positif dari masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi proyek. Keberadaan infrastruktur yang dibangun Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara itu dinilai mampu memberikan perlindungan bagi permukiman warga dari ancaman banjir dan aliran material saat curah hujan tinggi.
Bagi masyarakat, proyek tersebut bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan keamanan kawasan yang selama ini rawan terdampak bencana hidrometeorologi.
Salah seorang warga di sekitar lokasi pembangunan mengatakan, sejak proyek mulai dikerjakan, masyarakat menyambut baik kehadiran Sabo Dam. Menurutnya, infrastruktur tersebut menjadi harapan baru untuk meminimalkan risiko bencana yang selama ini menghantui warga setiap musim penghujan.
“Kami mengapresiasi Balai Wilayah Sungai Maluku Utara bersama pihak kontraktor yang telah membangun proyek ini. Kehadiran Sabo Dam membuat masyarakat merasa lebih tenang. Kami berharap pekerjaan ini segera selesai agar manfaatnya dapat dirasakan sepenuhnya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat mendukung penuh pembangunan tersebut. Menurutnya, berbagai informasi yang menyebut adanya penolakan dari warga tidak menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.
“Kalaupun ada persoalan terkait lahan, tentu penyelesaiannya dilakukan sesuai ketentuan. Namun jangan sampai berkembang anggapan bahwa masyarakat menolak proyek ini. Justru kami mendukung karena proyek ini sangat penting bagi keselamatan warga,” ujarnya.
Di sisi lain, Direksi Proyek Sabo Dam Sasa, Hamka, memastikan seluruh pekerjaan dilaksanakan sesuai ketentuan teknis, termasuk dalam penyediaan material konstruksi.
Ia menjelaskan bahwa seluruh kebutuhan material dipasok dari tiga lokasi tambang galian C yang telah mengantongi izin sebagai pemasok proyek. Salah satu lokasi tersebut merupakan galian C yang dikelola Jamaludin Wua atau yang dikenal dengan nama Udin Motul.
“Seluruh material berasal dari pemasok yang memiliki izin. Jadi material yang digunakan dalam pembangunan ini dipastikan berasal dari sumber yang legal,” jelas Hamka.
Ia juga memberikan klarifikasi terkait isu yang menyebut area pemakaman dimanfaatkan sebagai lokasi parkir alat berat tanpa persetujuan.
Menurut Hamka, informasi tersebut tidak benar. Ia menjelaskan bahwa penggunaan lokasi tersebut telah melalui komunikasi dan kesepakatan bersama masyarakat serta pemerintah kelurahan. Sebagai bentuk timbal balik, pihak pelaksana juga membantu pengerjaan penggalian batas pagar area pemakaman sesuai permintaan masyarakat.
“Hal itu tidak berkaitan dengan volume pekerjaan Sabo Dam. Seluruh pekerjaan sudah dihitung sesuai desain dan kontrak, sehingga tidak ada pengurangan ataupun penambahan pekerjaan akibat penggunaan lokasi tersebut,” tegasnya.
Lebih lanjut, Hamka menjelaskan bahwa proses penggalian batuan dilakukan menggunakan alat breaker karena karakteristik batu di lokasi sangat keras sehingga tidak memungkinkan menggunakan excavator biasa.
“Material yang digunakan merupakan material yang dibeli dari pemasok. Penggunaan breaker dilakukan karena kondisi batuan sangat keras. Jika menggunakan excavator, dikhawatirkan justru akan merusak alat,” katanya.
Secara teknis, konstruksi Sabo Dam dibangun dengan kedalaman sekitar enam meter dari permukaan tanah. Desain tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pengendalian aliran material dan banjir, sebagai langkah mitigasi terhadap potensi bencana seperti yang pernah terjadi di Kelurahan Rua beberapa waktu lalu.
Proyek Sabo Dam Sasa dikerjakan oleh PT Indah Jaya Karya Abadi dengan nilai kontrak sekitar Rp24 miliar. Karena berada di kawasan perkotaan yang padat aktivitas masyarakat, pelaksanaan pekerjaan dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan keselamatan kerja, menjaga lingkungan sekitar, serta meminimalkan gangguan terhadap aktivitas warga.
Melalui pembangunan Sabo Dam Sasa, pemerintah berharap sistem pengendalian banjir di Kota Ternate semakin kuat sehingga mampu memberikan perlindungan yang lebih optimal bagi masyarakat di kawasan rawan bencana. (Tim/FX)